Bagus Blog of Fisheries

Lets Improve Our Fisheries and Marine

Get Connected

Beri Makan Ikan


    Free Automatic Backlink 1000 Backlinks Free 100K Backlinks Backlinks Center Free SEO Backlinks Instant Backlinks SEO Bookmarks Dofollow Backlinks Premium Backlinks Top SEO Backlinks 1000 Backlinks Free Auto Backlinks Dofollow Backlinks Text Back Links Exchanges MAJLIS LINK: Do Follow BacklinkLink Portal Teks TVAutoBacklinkGratisjapanese instant free backlink Free Plugboard Link Banner ButtonFree Automatic Backlink Service Free Backlink Service, Links Building 4 Free Free Backlink Services Free Automatic Backlink Best Backlinks daily Bookmarks Free 1000 Backlinks Auto Dofollow Backlinks Backlinks Builder Dofollow Backlinks Free Hundred Backlinks Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free! Submit ExpressSEO Tools Dental Assistant DirectoryAziende Resource Direktori Indonesia WoW Range Best Web Directory

Penyakit Pada Karang

diposting oleh bagusrn-fpk09 pada 25 September 2011
di Bahan Kuliah - 0 komentar

Penyakit karang didefinisikan sebagai semua perusakan dari suatu sistem atau fungsi penting dari organisme, mencakup gangguan (interruption), perhentian (cessation), perkembangbiakan (proliferation), atau kegagalan lain (other malfunction). Penyakit karang (coral disease) tidak hanya disebabkan oleh mikroorganisme, namun masih banyak penyebab lainnya. Berdasarkan penyebabnya, penyakit karang dapat digolongkan menjadi 2, yaitu infeksius dan non-infeksius. Infeksius dibedakan menjadi 2, yaitu mikro dan makro, sedangkan non-infeksius dapat berupa mutasi genetic, kekurangan nutrisi, meningkatnya suhu air, laut, radiasi ultraviolet, sedimentasi, dan polutan (SANTAVY & PETERS, 1997). Hingga saat ini, telah ditemukan sekitar 30 penyakit yang menyerang karang. Namun demikian, masih sedikit yang diketahui penyebab dan efek dari penyakit-penyakit karang yang disebabkan oleh bakteri, jamur, alga, dan cacing (worm). Berikut ini adalah penyakit karang yang banyak dijumpai dan masih terus dilakukan pengamatan, antara lain :

 1.      Pemutihan Karang ( Bleaching )

Bleaching terjadi akibat berbagai macam tekanan, baik secara alami maupun karena anthropogenik yang menyababkan degenerasi atau hilangnya zooxanthellae  pewarna dari jaringan karang. Secara umum, pengertian bleaching adalah terpisahnya alga yang bersimbiosis ( zooxanthellae ) dari induk karang. Lebih lanjut JONES et al.  (1998) mengatakan bahwa bleaching adalah gangguan dalam proses fotosintesis zooxanthellae pada reaksi fotosistem II (PSII) dan non – photochemical quenching (NPQ) yang berkaitan denga mekanisme foto protektif sebagai indikator tekanan panas. Bleaching umumnya dapat disebabkan oleh karena adanya gangguan terhadap lingkungan dan organisme zooxanthellae. Bleaching sebagai adaptasi pathological, menyediakan kesempatan bagi kembalinya alga yang lebih baru pada karang. Secara umum, dalam pertumbuhannya karang mengandung sekitar 1-5 x 106 zooxanthellae cm2. Ketika karang mengalami bleaching, umumnya kehilangan 60-90% dari zooxanthellaenya dan tiapzooxanthellaemungkin kehilangan 50-80% dari pigmen fotosintesis (GLYNN, 1993). Kondisi bleaching atau hilangnya warna dari tubuh karang dapat terjadi sebagai akibat dari kondisi lingkungan dan akan menyebabkan karang stress (Gambar 2). Faktor – faktor yang memberikan kontribusi terjadinya bleaching adalah adanya perubahan temperatur yang ekstrim, metals, polutan lain (nitrat), arus perairan yang kecilm, intensitas cahaya, serta salinitas. Selain itu, bleaching dapat disebabkan karena sisa metabolisme yang berasal dari karang ( nitrogen dan pospat ) hanya dalam jumlah yang sedikit, sehingga kkodisi ini akan berpengaruh terhadap produk fotosintesis. Bila peristiwa ini terjadi secara terus menerus, maka akan mengakibatkan menurunnya kepadatan sel alga.

Penampilan yang pucat dari karang scleractinian dan hydrocorals, sangat berkaitan denganrangka cnidarian yang sangat mengandung zat kapur yang terlihat dari luar jaringan yang tembus cahaya ( hampir tanpa pigmentasi zooxanthellae ). Temperatur yang tinggi akan menyebabkan adanya gangguan sistem enzim di dalam zooxanthellae, sehingga pada akhirnya akan menurunkan katahanan untuk mengatasi oksigen toxicas. Fotosintesis dalam zooxanthellae akan menurun pada temperatur di atas 30oC dan dampaknya dapat mengaktifkan pemisahan karang / alga simbiosjs. Batas tertinggi suhu maksimal adalah 30-34oC dengan kemampuan toleransi suhu tertinggi 2oC. ( JOKIEL & COLES, 1990 ).

 2.      Black-band disease

Pada awal 1970, Arnfried Antonius melaporkan kejadian suatu band bermaterial hitam lembut yang keluar ke permukaan dari beberapa jenis karang massif pada terumbu karang di Carribean Barat. Band adalah suatu tanda berupa garis yang terdapat pada koloni karang dimana warna tersebut mencirikan jenis penyakit pada suatu jenis karang. Penyakit ini ditandai dengan suatu lembaran/bercak hitam yang luasnya sekitar 0,25 – 2 inci pada permukaan jaringan karang. Penyakit ini bergerak melewati permukaan rangka karang dengan kecepatan sekitar 3mm – 1cm perhari dan kemudian meninggalkan rangka karang berwarna putih kosong. BBD juga dicirikan oleh suatu cincin gelap, yang memisahkan antara jaringan karang yang masih sehat dengan rangka karang. Penyakit ini disebut juga Black Band Ring (Gambar ).

Dari hasil pengamatan pada begian karang yang terkena penyakit ini, dijumpai satu gabungan jasad renik, cyanobacterium , Spirulina, oksidasi sulfur bakteri pereduksi sulfat, bakteri heterotropik dan jasad renik lain (RICHARDSON et al., 1997). BBD akan meningkat, apabila terjadi sedimentasi serta adanya pasokan nutrient, bahan kimia beracun dan suhu yang melebihi normal (RICHARDSON, 1998).

 3.      Dark spots disease

Dark spots disease dalam jaringan karang masif telah banyak dikenal, tetapi belum banyak yang dipelajari. Penyakit bintik hitam muncul sebagai pigmen gelap, warna coklat atau warna ungu yang menyerang pada karang sclerectanian. Jaringan karang yang tertinggal tetap terlihat utuh, walaupun terkadang mengakibatkan kematian jaringan karang dalam pusat bintik. Warna ungu gelap kecoklatan atau kelabu dari jaringan tersebut sering melingkar pada permukaan, tapi kadang-kadang dijumpai juga bentuk yang tidak beeraturan pada permukaan koloni (bercak warna ungu terang terlihat pada permukaan koloni). Penyebab penyakit ini belum diketahui secara pasti, namun diduga disebabkan oleh adanya akumulasi sedimen pada suatu bintik hitam. 

 4.      Red-band disease

Penyakit ini menyerupai Black-band disease (BBD). (SANTAVY & PETERS, 1997) melaporkan bahwa suatu “band coklat” telah menginfeksi karang di Great Barrier Reef. RBD adalh suatu lapisan microbial yang berwarna merah bata atau coklat gelap, dan warna tersebut mudah dilihat pada permukaan jaringan karang. Penyakit ini mendinfeksi karang otak (Diploria strigosa, Montastrea annularis, Montastrea cavernosa, Porites astreoides, Siderastrea  sp. dan Colpophyllia natans) di Great Barrier Reef. Band nampak seperti gabungan dari cyanobacteria dan jasad renik yang berbeda dibanding dengan biota yang ditemukan pada BBD. Selain itu, pergerakan microbial ini berbeda, yakni tergantung pada induk karang (RICHARDSON, 1992). RBD yang ditemukan di perairan Carribean barat Amerika, sedangkan “Brown Band” ditemukan di Great Barrier Reef. Penyakit RBD dan BBD menunjukkan gejala yang sama, yaitu  hilangnya jaringan karang. Penyakit ini disebabkan karena rangka karang tercemar oleh alga berfilamen dan adanya akumulasi sedimen, yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan karaang baru.

 5.      White-band disease

White-band disease (WBD) pertama kali ditemukan pada tahun 1977 di Teluk Tague, St. Croix, Kepulauan Virgin, Amerika dan umumnya terjadi pada jenis karang yang bercabang. Hilangnya jaringan tersebut akan menyebabkan suatu garis pada koloni karang, oleh karena itu penyakit ini disebut white-band disease atau  WBD (GREEN & BRUCKNER, 2000). Berbeda dengan kasus BBD, pada penyakit ini tidak ditemukan adanya kumpulan jasad renik yang konsisten yang menyebabkan terjadinya penegulapasan pada jaringan dan rangka karang yang kosong.

           Pada bagian jaringan Acropora cervicornis, hanya hilang pada pertengahan suatu cabang. Tingkat jaringan karang yang hilang sebesar 1/8 – ¼ inci/hari, dan rangka karang yang kosong segera akan diganti dengan alga berfilamen. Band rangka yang berwarna kosong yang terlihat, lebarnya dapat mencapai antara 5-10 cm (GLADFELTER, 1991). Jaringan karang yang tersisa pada cabang tidak menunjukkan adanya pemutihan, walaupun koloni yang terpengaruh secara keseluruhan erlihat adanya goresan warna.

           Penyebab terjadinya WBD masih belum banyak diketahui, namun sudah ditemukan adanya kumpulan bakteri pada jaringan karang yang mampu meluas dari satu koloni ke koloni lainnya. Pada saat ini, para peneliti masih belum mampu mengidentifikasi peranan mikroorganisme yang ada pada jaringan karang yang terkena penyakit tersebut (RICHARDSON, 1998).

 6.      White plague

Penyakit White plague (WP) terlihat mirip dengan WBD, tetapi WP menyerang karang yang berbeda. Karang  jenis massive dan encrusting yang diamati terlihat adanya jaringan karang yang hilang, meninggalkan rangka karang yang berwarna putih kosong, wabah ini disebut wabah putih atau WP. WP juga dikenal sebagai “whitw-band disease”, “white death” dan “stress-related necrosis”, tetapi peran dari tekanan perubahan lingkungan dan infeksi bakteri pathogen terhadap hilangnya jaringan belum dilakukan penelitian.

WP tipe I, dilaporkan mempengaruhi 10 spesies karang dan efeknya menyebabkan jaringan lunak karang mengalami kematian dengan kisaran sekitar 3mm/hari. Pada WP tipe II, menyebabkan kematian pada jaringan lunak karang sampai sekitar 2cm/hari. Sekitar 32 spesies karang terjangkit WP tipe II, WP tipe III mempengaruhi karang pembentuk terumbu yang sangat luas termasuk karang dengan bentuk pertumbuhan massive. Jaringan karang yang hilang yang disebabkan oleh WP tipe III, dampaknya lebih besar daripada tipe I dan II. Hilangnya jaringan karang yang sangat cepat, mungkin disebabkan oleh bacterium dan dampaknya meluas dari satu koloni ke koloni lain.

 7.      White pox

Penyakit ini ditemukan oleh Craig Quirolo dan Jim Porter di barat Florida pada tahun 1996. Penyakit ini ditandai dengan munculnya tambalan (bercak) pada rangka berwarna putih kosong yang berbentuk irregular. Tambalan (bercak) dapat terjadi di permukaan atas atau bagian bawah percabangan. Jaringan karang terlihat mengelupas, namun tidak rata, sedangkan laju penghilangan jaringan karang terjadi sangat cepat. Jaringan karang pada umumnya ditempeli alga berfilamen dalam beberapa hari. Peristiwa mengelupasnya jaringan karang ini masih belum diketahui secara pasti, namun kemungkinan disebabkan oleh bakteri pathogen.

 8.      Yellow-blotch or yellow-band disease

Penyakit ini hanya mempengaruhi karang jenis Montastrea dan Colpophyllia natans. YBD pertama kali ditemukan pada tahun 1994 (GREEN & BRUCKNER, 2000) yang diawali dengan danya warna pucat, bintik sirkular pada jaringan translusen atau sebagai band yang sempit pada jaringan karang yang pucat di bagian pinggir koloni. Namun areal di sekitar koloni tersebut masih normal dan pigmen jaringannya baik. Bagian dari jaringan karang yang dipengaruhi oleh penyakit tersebut, akan keluar dari karang dan kemudian karang akan mati.

Jaringan karang yang hilang dari pengaruh YBD, rata-rata adalah 5-11 cm/tahun, lebih sedikit dari penyakit karang lainnya. meskipun demikian, penyakit ini dapat menyebar pada koloni karang yang lain dan menyerang koloni karang dewasa dan berukuran besar.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Pengunjung

    820.801