Bagus Blog of Fisheries

Lets Improve Our Fisheries and Marine

Get Connected

Beri Makan Ikan


    Free Automatic Backlink 1000 Backlinks Free 100K Backlinks Backlinks Center Free SEO Backlinks Instant Backlinks SEO Bookmarks Dofollow Backlinks Premium Backlinks Top SEO Backlinks 1000 Backlinks Free Auto Backlinks Dofollow Backlinks Text Back Links Exchanges MAJLIS LINK: Do Follow BacklinkLink Portal Teks TVAutoBacklinkGratisjapanese instant free backlink Free Plugboard Link Banner ButtonFree Automatic Backlink Service Free Backlink Service, Links Building 4 Free Free Backlink Services Free Automatic Backlink Best Backlinks daily Bookmarks Free 1000 Backlinks Auto Dofollow Backlinks Backlinks Builder Dofollow Backlinks Free Hundred Backlinks Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free! Submit ExpressSEO Tools Dental Assistant DirectoryAziende Resource Direktori Indonesia WoW Range Best Web Directory

Perkembangan Budidaya Air Payau di Indonesia

diposting oleh bagusrn-fpk09 pada 16 October 2011
di Perikanan - 0 komentar

Perairan payau atau brackish water merupakan perairan campuran antara air asin (laut) dan air tawar. Salinitas pada perairan payau sangat berfluktuatif tergantung dari pemasukan air asin dan air tawar sehingga salinitas terkadang bisa lebih rendah atau lebih tinggi. Sehingga perairan payau (brackish water) dapat dikatakan lingkungan perairan yang memiliki karakteristik unik, karena air yang terdapat di dalamnya merupakan hasil percampuran antara air asin dengan air tawar. Salinitas air payau pada umumnya relatif rendah (10-20 ppt) dan kadang-kadang bisa lebih rendah atau bahkan lebih tinggi (Anonim, 2009)

Budidaya perairan payau saat ini telah berkembang dengan pesat sebagai usaha perikanan yang memberikan keuntungan sangat besar. Udang vaname merupakan salah satu komoditas budidaya perairan payau. Budidaya udang Vaname semakin digemari dan permintaannya terus meningkat hal ini disebabkan udang vaname ini memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan udang windu. Keunggulan yang dimiliki udang vaname antara lain, tahan terhadap penyakit bercak putih (White Spot Syndrome Virus), padat tebar tinggi, pertumbuhan cepat, memiliki kisaran suhu dan salinitas yang luas. Komoditas ini cepat melesat di pasaran karena keunggulannya yang lebih mudah ditangani. Selain itu udang putih memiliki nilai jual yang tinggi, walaupun belum setinggi udang windu, namun budidaya udang ini menjadi perhatian besar bagi para petani udang dan pengusaha tambak sebagai salah satu komoditas yang menjanjikan, baik untuk pasar lokal maupun internasional.

Usaha dalam bidang perikanan, khususnya akuakultur memiliki andil yang cukup besar dalam upaya peningkatan pendapatan keluarga para pembudidaya ikan dan atau udang, memberikan sumbangan protein hewani dan peningkatan gizi bagi masyarakat luas, peningkatan devisa negara dan memberikan peluang penyediaan kesempatan dan lapangan kerja yang cukup besar. Sumberdaya perikanan merupakan salah satu modal dasar yang sangat berarti dalam program pembangunan nasional. Meningkatnya permintaan akan komoditas perikanan (ikan dan atau udang) dewasa ini merupakan harapan baru yang sangat menguntungkan bagi para pembudidaya ikan dan atau udang maupun wiraswasta  baru yang ingin berinvestasi dalam bidang perikanan, khususnya akuakultur payau.

Budidaya ikan di Indonesia, baik ikan air tawar maupun air payau tercatat sekurang – kurangnya telah diupayakan lebih dari enam abad yang lalu. Usaha akuakultur, terutama akuakultur tawar maupun payau telah berkembang pesat sejak tahun 1960-an. Usaha akuakultur payau, baik ikan maupun udang merupakan salah satu alternatif peningkatan produktivitas komoditi perikanan sebagai solusi untuk mengantisipasi langkanya produksi perikanan (ikan atau udang) di pasaran atau masyarakat. Komoditas perikanan air payau yang hingga saat ini masih bertahan dan berkembang di Indonesia antara lain udang windu (Panaeus monodon) dan udang putih, seperti udang vanamei (P. vannamei atau L. vannamei) maupun jenis udang putih lain seperti P. indicus dan P. merguensis. Selain itu ada ikan bandeng (C. chanos) yang juga telah banyak dibudidayakan dan dikembangkan dalam akuakultur tawar, bahkan ikan kakap (kakap putih, Lates calcarifer Bloch maupun kakap merah, Lutjanus sp.) dan ikan kerapu juga masih dikembangkan untuk akuakultur payau di tambak tradisional maupun modern. Usaha akuakultur ini diharapkan dapat memenuhi permintaan akan komoditas perikanan serta menyediakan stok produksi ikan atau udang, baik untuk konsumsi (domestik / lokal maupun ekspor) dan juga stok induk yang mulai berkurang.

Budidaya ikan dan atau udang sangat menjanikan dan memmberikan prospek yang cuup besar untuk dikembangkan secara terus – menerus dan memiliki potensi pasar yang cukup luas pula, sehingga manajemen akuakultur yang telah ada dan berkembang pesat perlu terus dikaju dan dipelajari secara serius. Secara umum, sistem akuakultur dapat digolongkan ke dalam dua kelompok besar, yaitu akuakultur sistem tradisional dan akuakultur sistem modern atau semi intensif / intesnsif. Kedua sistem akuakultur tersebut berbeda dalam manajemen budidayanya.

Untuk mempermudah pemahaman tentang manajemen akuakultur payau, maka ada beberapa aspek yang harus dipelajari dan diketahui serta dipahami oleh mahasiswa, yang mana aspek – aspek tersebut merupakan komponen dasar dari manajemen akuakultur secara keseluruhan baik akuakultur tawar, payau maupun laut (marikultur). Manajemen akuakultur secara umum terdiri dari lima aspek dasar yang saling terkait dan mendukung yang penting untuk diketahui serta dipahami dengan baik dalam usaha akuakultur yang dijalankan. Aspek tersebut antara lain :

  1. Aspek teknis atau teknik, meliputi semua yang berhubungan denga teknis akuakultur yang dilakukan dan kegiatan lain yang dilakukan dalam proses akuakultur itu sendiri.
  2. Aspek sarana dan prasarana, meliputi semua yang berkaitan dengan alat dan bahan atau bangunan operasional yang digunakan untuk memperlancar (keberhasilan) suatu proses produksu usaha akuakultur.
  3. Aspek administrasi dan keuangan, meliputi sumberdaya manusia, kelembagaan (organisasi) dan permodalan dalam usaha akuakultur.
  4. Aspek sosial dan ekonomi, meliputi konsumen, pemasaran (pasar), keamanan, skala usaha dan kelayakan usaha akuakultur.
  5. Aspek pengembangan usaha akuakultur, meliputi upaya pengembangan usaha yang telah dilakukan dan hasil yang diperolah dari pengembangan tesebut.
  6. Pengetahuan dan pemahaman tentang manajemen akuakultur sangat penting untuk keberhasilan menjalankan usaha akuakultur yang baik, tepat dan berkesinambungan terutama akuakultur yang ramah lingkungan.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Pengunjung

    795.751