Bagus Blog of Fisheries

Lets Improve Our Fisheries and Marine

Get Connected

Beri Makan Ikan


    Free Automatic Backlink 1000 Backlinks Free 100K Backlinks Backlinks Center Free SEO Backlinks Instant Backlinks SEO Bookmarks Dofollow Backlinks Premium Backlinks Top SEO Backlinks 1000 Backlinks Free Auto Backlinks Dofollow Backlinks Text Back Links Exchanges MAJLIS LINK: Do Follow BacklinkLink Portal Teks TVAutoBacklinkGratisjapanese instant free backlink Free Plugboard Link Banner ButtonFree Automatic Backlink Service Free Backlink Service, Links Building 4 Free Free Backlink Services Free Automatic Backlink Best Backlinks daily Bookmarks Free 1000 Backlinks Auto Dofollow Backlinks Backlinks Builder Dofollow Backlinks Free Hundred Backlinks Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free! Submit ExpressSEO Tools Dental Assistant DirectoryAziende Resource Direktori Indonesia WoW Range Best Web Directory

Plankton, Makanan Penting Dalam Budidaya Ikan

diposting oleh bagusrn-fpk09 pada 11 November 2012
di Perikanan - 0 komentar

Fitoplankton dan zooplankton merupakan makanan alami utama dari beberapa spesies akuatik budidaya (ikan, udang, moluska). Keberadaan organisme hidup ini (makanan alami) tetap diperlukan sebagai pemelihara keseimbangan ekosistem kolam. 

Pengetahuan tentang hubungan antara plankton dan ikan perlu dikuasai dengan baik, karena :

  1. aplikasinya pada aktivitas akuakultur
  2. membantu meningkatkan produksi ikan per unit kolam
      yang diusahakan

 

Penyuburan plankton dapat menyebabkan pertumbuhan populasi ikan di kolam budidaya menjadi optimum. 

 

Plankton mempunyai peranan penting pada manusia 

-Secara tidak langsung: plankton mrpk mata rantai dari siklus makanan pada lingkungan akuatik

-Secara langsung: Di Jepang & Cina mereka sudah lama makan ubur-ubur (plankton), Di India, makan misid Mesopodopsis orientalis, Sentral Afrika Barat (Danau Chad) makan cake Spirulina (“dihe”)

Plankton adalah Organisme yg hidup melayang atau mengambang di dalam air atau migrasi vertikal mulai dari permukaan laut hingga kedalaman dg intensitas cahaya yg masih memungkinkan fotosintesis (zone euphotic). Berfungsi sebagai produsen primer (primary producer) dalam rantai pakan (food chain) dg efisiensi perpindahan senyawa organik ke level berikutnya hanya sekitar 10%

Berdasar kemampuan fotosintesa : phytoplankton  & zooplankton 

Berdasar ukuran : megaplankton (> 2 mm), makroplankton (0,2 – 2 mm), mikroplankton (20μm – 0,2 mm), nannoplankton (0,2 μm - 20 μm), ultraplankton (< 0,2 μm)

Berdasar daur hidupnya : holoplankton (seluruh daur hidupnya sbg plankton), meroplankton(sebagian daur hidupnya bersifat planktonis)

Phytoplankton yg dominan di Indonesia : diatom (Skeletonema, Chaetoceros, Bacteriastratum, Rhizosolenia), dinoflafellata (Noctiluca, Pyrodinium bahamense ~ red tide), blue green algae atau cyanophyta (Trichodesmium)

Zooplankton yg dominan di Indonesia : copepoda (Euchaeta concinna, Undinila vulgaris, Eucalanus subcrassus, Candacia bradyi, Labidocera acuta), ubur-ubur (ubur-ubur api / layaran Physalia ~ Portuguese man of war, Chironex fleckeri ~ kematian, Rhopilema esculanta ~ export)

 

Dalam suatu perairan, fitoplankton berfungsi :
(Raymont, 1963)

1. Pengubah zat anorganik menjadi zat organik

2. Makanan zooplankton dan beberapa jenis larva ikan

3. Sumber zat asam

4. Bagian dari daur ulang nutrien yang terkandung dalam perairan

 

Fitoplankton di alam merupakan dasar dari rantai makanan yang mensupport produksi sumberdaya yang dapat diperbaharui melalui produksi ikan 100 x 106 ton/tahun.

Organisme marikultur seperti moluska, krustace (khususnya udang),dan larva ikan-ikan kecil (sea bream, turbot, dan ikan lainnya) umumnya membutuhkan mikroalga secara langsung maupun tidak langsung sebagai makanan larva.

 

Produksi tinggi ikan dengan kualitas baik tergantung : 

1.Kualitas air
2.Benih unggul
3.Makanan untuk ikan
Jenis dan kualitas makanan perlu disediakan dalam kegiatan budidaya sejak benih hingga ukuran dewasa.

Ketergantungan larva ikan, udang dan moluska terhadap plankton (makanan alami) mutlak diperlukan selain makanan tambahan (pakan buatan) , karena :

pakan alami mengandung nilai gizi seperti ; karbohidrat,   protein, lemak, vitamin dan mineral kompleks yang terdapat pada pakan buatan.

Diatom, filamen dan beberapa jenis alga hijau juga beberapa alga sering ditemukan dalam saluran pencernaan ikan bertulang belakang dan kerang-kerangan yang banyak digunakan sebagai makanan ikan.

Penyediaan pakan bernutrisi selama pemeliharaan harus tersedia secara kontinu. Hal ini dapat dicapai melalui kegiatan :

  1. Teknik kultur pakan alami

  2. Pengkayaan makanan/pakan

  3. Perkembangan pakan buatan

 

Makanan yang optimal untuk pemeliharaan larva Ikan :

  - alga (mikroalga)
  - trochopor oyster
  - rotifera
  - copepoda
  - naupli dan dewasa artemia
  - cacing darah
  - pakan formulasi

Dalam kegiatan budidaya, fitoplankton selain sebagai makanan bagi organisme akuatik budidaya juga berfungsi sebagai penyeimbang lingkungan.

Pada pembenihan larva finfish dikenal sistem “Green Water”. Green water sistem merupakan teknik penambahan fitoplankton (mikroalga) ke dalam tangki/bak pemeliharaan larva, hal ini dapat membantu menurunkan kematian larva hingga 75%.

Mengapa Green water dapat menurunkan kematian larva ???

Green water :
    1. Menstabilkan kualitas air, melalui pembuangan produk metabolit & produksi O2
    2. Menaikkan kontras visual dan dispersi cahaya sehingga ikan
        terlihat jelas
    3. Peningkatan nutrisi melalui pencernaan langsung
    4. Meningkatkan nilai nutrisi konsumen primer
        ex : rotifer, artemia, dll

 5. Menstimulasi sistem kekebalan non spesifik pada larva (mikroalga    mengandung antibiotik alami prevent diseases)

 

Kondisi fisika-kimia plankton

->Nutrisi/ medium kultur

Kultur alga harus diperkaya dengan nutrien untuk melengkapi kekurangan nutrisi dalam air / air laut kultur 

->Cahaya

Serupa dengan tumbuhan,  mikroalga melakukan fotosintesis( mengkonversi karbon inorganik menjadi materi organik). Cahaya merupakan sumber energi yang membantu reaksi fotosintesis.

->pH

Kisaran pH untuk kebanyakan spesies kultur mikroalga adalah antara 7 –9; pH optimum: 8,2 –8,7 f

->Aerasi / pengadukan

Pengadukan diperlukan untuk mencegah sedimentasi sel alga, agar semua sel terdedah secara merata terhadap cahaya dan nutrisi, mencegah stratifikasi suhu (kultur out door), meningkatkan pertukaran gas antara medium kultur dan udara, dan sumber karbon (CO2) dalam proses fotosintesis

->Suhu

Suhu optimal untuk kultur mikroalga berkisar antara 20 -24°C, bervariasi dengan komposisi medium kultur, spesies dan strain kultur 

->Salinitas

Mayoritas spesies tumbuh optimal pada salinitas sedikit lebih rendah dibanding habitat alaminya (20-24 ppt); didapatkan melalui pengenceran air laut dengan air tawar. 

 

Dinamika Pertumbuhan Mikroalga

-Fase lag

ukuran sel meningkat namun kepadatan belum bertambah; kultur mulai menyerap nutrien yang terdapat pada medium kultur

-Fase eksponensial

sel bereproduksi dengan cepat, dengan pertumbuhan populasi skala eksponensial

-Fase transisional (~ fase penurunan pertumbuhan)

laju pertumbuhan populasi kultur menurun

-Fase stasioner

Jumlah / kepadatan populasi kultur stabil; Reproduksi seimbang dengan kematian

-Fase kematian

Kepadatan sel menurun; Laju kematian sel melebihi laju pertumbuhan sel

Kriteria penting seleksi pakan alami :

1.Ukuran dan kepadatan pemberian pakan

2.Motil dan kapasitas melayang
3.Mempunyai nilai nutrisi
4.Harus mudah dicerna dan diserap
5.Berwarna
6.Harus mudah didapat atau diproduksi dalam jumlah besar
7.Harus berbiaya produksi rendah (tidak high cost)

 

 

Pakan Alami yang digunakan dalam pembenihan ikan dan krustase :

Class

Species

Size ( μm)

Microalga

Skeletonema costatum

15-25

 

Chaetoceros muelleri (gracilis)

6-9

 

Tetraselmis chui (tetrahele, suesica)

8-16

 

Nannochloropsis oculata

2-5

 

Isochrysis galbana

3-7

 

Pavlova sp.

4-9

Oyster trocophora

 

50-60

Rotifer

Brachionus sp. (SS-type)

94-163

 

Brachionus rotundiformis (S-type)

150-205

 

Brachionus plicatilis (L-type)

162-243

Brine shrimp

Artemia spp.

400-10,000

Copepods

Schameckeria dubia

250-1,280

 

Apocyclopas royi

110-1,010

 

Tigriopus japonicus

100-900

 

Acartia clausi

 

 

Oithona sp.

 

 

Euterpina acutifrons

75-700

 

Tisbe sp.

55-180

Cladocera

Moina sp.

150-1,500

 

Diaphanosoma aspinosum

400-1,150

Nematoda

Panagrellus redivivus

50 diameter

Oligochaetes

Enchytraeus sp.

0.58-3.5 cm

 

Selengkapnya Download File PDF

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Pengunjung

    795.833