Bagus Blog of Fisheries

Lets Improve Our Fisheries and Marine

Get Connected

Beri Makan Ikan


    Free Automatic Backlink 1000 Backlinks Free 100K Backlinks Backlinks Center Free SEO Backlinks Instant Backlinks SEO Bookmarks Dofollow Backlinks Premium Backlinks Top SEO Backlinks 1000 Backlinks Free Auto Backlinks Dofollow Backlinks Text Back Links Exchanges MAJLIS LINK: Do Follow BacklinkLink Portal Teks TVAutoBacklinkGratisjapanese instant free backlink Free Plugboard Link Banner ButtonFree Automatic Backlink Service Free Backlink Service, Links Building 4 Free Free Backlink Services Free Automatic Backlink Best Backlinks daily Bookmarks Free 1000 Backlinks Auto Dofollow Backlinks Backlinks Builder Dofollow Backlinks Free Hundred Backlinks Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free! Submit ExpressSEO Tools Dental Assistant DirectoryAziende Resource Direktori Indonesia WoW Range Best Web Directory

Menelisik Keindahan Raja Ampat

diposting oleh bagusrn-fpk09 pada 20 November 2012
di Bahan Kuliah - 0 komentar

Kepulauan Raja Ampat merupakan kepulauan yang berada di Barat pulau Papua di Provinsi Irian Barat, tepatnya di bagian kepala burung Papua.  Pada akhir tahun 2003, Raja Ampat dideklarasikan sebagai kabupaten baru, berdasarkan UU No. 26 tentang Pembentukan Kabupaten Sarmi, Kabupaten Kerom, Kabupaten Sorong Selatan, dan Kabupaten Raja Ampat, tanggal 3 Mei tahun 2002. Kabupaten Raja Ampat merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Sorong dan termasuk salah satu dari 14 kabupaten baru di Tanah Papua.  Kabupaten Raja Ampat terdiri dari 4 pulau besar yaitu Pulau Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool. Pusat pemerintahan berada di Waisai, Distrik Waigeo Selatan, sekitar 36 mil dari Kota Sorong.  Kepemerintahan di kabupaten ini baru berlangsung efektif pada tanggal 16 September 2005. Secara geografis Kepulauan Raja Ampat berada pada   01o15’ LU  –  2o 15’ LS dan 129o10’ – 121o10’ BT dengan luas wilayahnya 46.000 km2 terdiri dari wilayah lautnya 40.000 km2 dan luas daratannya 6.000 km2. Bisa dikatakan sekitar 85% dari luasnya tersebut merupakan lautan, sisanya merupakan daratan yang terdiri dari 610 pulau yang tidak berpenghuni. Hanya pada 35 pulau saja keberadaan penduduk asli dari 10 suku dapat dijumpai. Secara geoekonomis dan geopolitis, Kepulauan Raja Ampat memiliki peranan penting sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan wilayah luar negeri.  Pulau Fani yang terletak di ujung paling utara dari rangkaian Kepulauan Raja Ampat, berbatasan langsung dengan Republik Palau.  Secara administratif  batas wilayah  Kabupaten Raja Ampat adalah sebagai berikut: Sebelah selatan berbatasan langsung dengan Kabupaten Seram Utara, Provinsi Maluku. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara. Sebelah timur berbatasan dengan Kota Sorong dan Kabupaten Sorong, Provinsi Irian Jaya Barat. Sebelah Utara berbatasan langsung dengan Republik Federal Palau. Dari luas wilayahnya di atas Kepulauan Raja Ampat  terbagi menjadi 10 distrik, 86 kampung, dan 4 dusun.   Berdasarkan Undang-Undang No. 26/2002, wilayah Kabupaten Raja

Ampat terdiri dari  7 distrik yaitu:

1.  Distrik Kepulauan Ayau.

2.  Distrik Waigeo Utara.

3.  Distrik Waigeo Selatan.

4.  Distrik Waigeo Barat.

5.  Distrik Samate.

6.  Distrik Misool Timur Selatan.

7.  Distrik Misool.

Kemudian terjadi pemekaran 3 distrik baru, yaitu:

1.  Distrik Kofiau.

2.  Distrik Waigeo Timur.

3.  Distrik Teluk Mayalibit.

Distrik dengan luas wilayah daratan terbesar adalah Distrik Samate yaitu 1.576 km2 dan dengan luas terkecil adalah Distrik Kepulauan Ayau yaitu 18 km2 (Analisa Citra Landsat, 2006). Sebagai wilayah kepulauan, daerah ini memiliki sekitar 610 pulau besar dan kecil, atol dan taka dengan panjang garis pantai 753 km, dengan 34 pulau yang berpenghuni.  Perbandingan wilayah darat dan laut adalah 1:6, dengan wilayah perairan yang lebih dominan.   Jumlah penduduk berdasarkan data Kabupaten Raja Ampat Dalam Angka Tahun 2004 adalah 30.374 jiwa.

 

 

Potensi dan Pengembangan Wilayah Pesisir di Kepulauan Raja Ampat Kepulauan Raja Ampat merupakan tempat yang sangat berpotensi untuk dijadikan objek wisata, terutama wisata bahari (penyelaman). Perairan Raja Ampat menurut berbagai sumber, merupakan salah satu dari 10 perairan terbaik untuk diving site di seluruh dunia. Bahkan diakui sebagai nomor satu untuk kelengkapan flora dan fauna bawah air pada saat ini. Sering disebut juga sebagai “surga para penyelam”.

Pada tahun 2002, The Nature Conservancy (TNC) dan Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) LIPI mengadakan suatu penelitian ilmiah untuk memperoleh data dan informasi tentang ekosistem laut, daerah bakau dan hutan Kepulauan Raja Ampat. Survei ini menunjukkan bahwa terdapat sejumlah 537 jenis karang, yang sungguh menakjubkan karena mewakili sekitar 75% jenis karang yang ada di dunia. Ditemukan pula 828 jenis ikan dan diperkirakan jumlah keseluruhan jenis ikan di daerah ini 1.074. Di darat, penelitian ini menemukan berbagai tumbuhan hutan, tumbuhan endemik dan jarang, tumbuhan di batuan kapur serta pantai peneluran ribuan penyu.  Selain itu ada beberapa kawasan terumbu karang yang masih sangat baik  kondisinya dengan persentasi penutupan karang hidup hingga 90% yaitu selat Dampier (Selat antara P. Waigeo dan P. Balanta), Kepulauan Kofiau, Kepulauan Misool Timur Selatan dan Kepulauan Wayag. Di beberapar tempat ada keunikan tersendiri seperti di Kampung Saondarek, ketika pasang surut terendah, bisa disaksikan hamparan terumbu karang tanpa menyelam dan dengan adaptasinya sendiri, karang tersebut masih bisa hidup walaupun di udara terbuka dan terkena matahari langsung.

Di Kepulauan Raja Ampat juga dapat ditemukan beberapa spesies unik saat menyelam  seperti  pigmy seahorse atau kuda laut mini, wobbegong dan manta ray. Juga ada ikan endemic  Raja Ampat yaitu Eviota Raja sejenis ikan gobbie. Jika menyelam di Cape Kri atau chiken reef,  kita akan di kelilingi ribuan ikan seperti kumpulan ikan Tuna,  snapper  dan  giant travellies.  Tetapi yang paling menegangkan jika kita dikeliligi ikan Barakuda.  Kadang juga terlihat hiu  karang dan apabila beruntung melihat penyu sedang diam memakan sponge atau berenang serta  ada juga dugong atau duyung. Di Kepulauan Raja Ampat juga cocok untuk melakukan drift dive,  yaitu menyelam mengikuti arus kencang dengan air  yang sangat jernih sambil menerobos  kumpulan ikan. Cocok juga untuk  wreck dive  karena disana kita dapat menjumpai Pesawat  karam bekas peninggalan perang dunia II seperti di P. Wai dan masih banyak lagi situs yang  belum pernah terjamah dan lebih menantang di Kepulauan Raja Ampat ini.

Sekali pun kebayakan wisatawan yang data ke Raja Ampat saat ini adalah para penyelam,  sebenarnya lokasi ini menarik juga bagi turis non-penyelam karena memiliki pantai-pantai  berpasir putih yang sangat indah dan gugusan pulau-pulau Karst nan mempesona dan flora-fauna  unik endemik seperti cendrawasih merah, cendrawasih Wilson, maleo waigeo, beranekaragam  burung kakatua, dan nuri, kuskus waigeo serta beragam jenis anggrek.

    Dilihat dari segi sosial ekonomi  ada beberapa biota laut yang diketahui mempunyai  potensi tertentu dan dapat dimanfaatkan. Potensi ini berupa bahan makanan dan sumber protein,  jenis potensial untuk dibudidayakan atau objek indah untuk dilihat. Penyu misalnya merupakan  objek untuk dilihat mauapun dimanfaatkan.  Biota lautnya adalah ikan dan biota laut lainnya.  Ikan-ikan ini dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok ikan yang mempunyai arti  untuk dikonsumsi(ikan target), kelompok ikan yang memberikan indikasi tentang kondisi  terumbu karang(ikan indikator) dan kelompok ikan yang umumnya merupakan bagian dari  ekosistem terumbu (ikan utama/major fish).

    Kehidupan masyarakat Kepulauan Raja Ampat pada umumnya nelayan tradisional yang  berdiam di kampung-kampung kecil yang letaknya berjauhan dan berbeda pulau. Masyarakatnya  pun terdiri dari beberapa etnis dan suku-suku, yaitu suku Maya, suku Ondoloren dari Biak, ada  pula yang datang dari luar Papua seperti Maluku Utara, Seram dan sebagainya. Namum mereka  adalah masyarakat yang ramah menerima tamu dari luar, apalagi kalau kita membawa oleh-oleh  buat mereka berua pinang ataupun permen. Barang ini menjadi semacam “pipa perdamaian  indian” di Raja Ampat. Acara ngobrol dengan makan pinang disebut juga “para-para pinang” sering kali bergiliran satu sama lain saling melempar mob(istilah di Papua untuk cerita-cerita  lucu). Mereka adalah pemeluk agama Islam dan Kristen dan sering kali di dalam satu keluarga  atau marga terdapat dua agama tersebut. Hal ini menjadikan masyarakat Raja Ampat tetap rukun  walaupun berbeda keyakinan.

 

Permasalahan Pengembangan Pesisir dan Laut Kepulauan Raja Ampat

    Pengembangan pesisir dan laut Kepulauan Raja Ampat dihadapkan pada berbagai isu dan

permasalahan. Beberapa isu dan permasalahan tersebut adalah :

1.  Kekayaan keanekaragaman hayati di Kepulauan Raja Ampat memilki tingkat ancaman  yang tinggi pula. Daerah ini juga sangat dilirik oleh kepentingan-kepentingan sesaat yang  ingin mengeksploitasi sumber daya alamnya. Hal itu bisa dilihat dari kerusakan terumbu  karang dan hutan. Kerusakan terumbu karang umumnya dikarenakan penangkapan ikan  yang tidak ramah lingkungan seperti bom, sianida dan akar bore (cairan dari olahan akar  sejenis pohon untuk meracun ikan).

2.  Masalah yang harus diperhatikan adalah  pemilikan atau masalah ulayat dan adat.  Sebenarnya ini  merupakan sebuah masalah atau tantangan, tetapi sebagai modal atau  dorongan dalam pembangunan yang tentunya melibatkan masyarakat Raja Ampat sendiri,  sebagai pemilik hak ulayat dan adat yang bisa ikut berperan dalam proses pembangunan.   Budaya dan adat istiadat akan menunjukan pada proporsi sebenarnya dan dengan  bersama-sama pemerintah dan  stake holder  lainnya akan membangun Kepulauan Raja Ampat sebagai wilayah yang menjanjikan.

3.  Potensi obyek pariwisata pantai dan pariwisata bahari yang belum dimanfaatkan  secara  optimal. Hal ini disebabkan belum tersedianya infrastruktur  dasar yang memadai dan  sarana prasarana pariwisata lainnya. Selian itu juga belum dilakukan promosi terhadap  potensi pariwisata di Kepulauan Raja Ampat.

4.  Belum diprioritaskannya pembangunan  di wilayah tertinggal oleh pemerintah daerah  karena dianggap tidak menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD) secara langsung.  Dengan demikian dukungan antar sektor terkait untuk pengembangan  Kepulauan Raja  Ampat belum optimal. 

5.  Belum berkembangnya  sistem informasi  yang dapat memberikan akses pada informasi  produk unggulan, pasar, dan teknologi. Keterbatasan pengetahuan dan kemampuan dalam penggunaan teknologi ini menjadi salah satu kendala dan pemicu adanya eksploitasi  sumberdaya yang merusak potensi lestari dan berdampak negatif bagi lingkungan. 

6.  Belum tertatanya  sistem kelembagaan dan manajemen  yang belum terkelola baik untuk  pengelolaan pengembangan kawasan yang terpadu, dan berkelanjutan, dalam  memberikan dukungan kepada peningkatan daya saing produk dan  kawasan yang  dikembangkannya.

7.  Kurangnya informasi mengenai potensi lingkungan beserta keanekaragaman hayatinya,  menyebabkan perlu adanya penelitian karakteristi tipe ekosistem dan keanekaragaman  jenis biotanya. Melalui kajian lebih mendalam, baik tingkat ekosistem maupun jenis yang  ada di Kepulauan Raja Ampat. Data tersebut diharapkan dijadikan bahan masukan upaya  pengembangan dan pemanfaatannya secara berkelanjutan.  Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Pesisir dan Laut Kepulauan Raja Ampat

    Sebagai kabupaten yang baru , pemekaran kabupaten tersebut harus ada prioritas karena  87% luas wilayahya merupaka lautan dan 13% daratan. Selain itu Kepulauan Raja Ampat sudah  sangat terkenal dengan kekayaan alam dan biota lautnya sehingga pembangunan wilayah yang  dilakukan adalah berbasis bahari.

    Kebijakan pengelolaan dan pembangunannya  Kepulauan Raja Ampat  harus dilakukan  dengan  Co-Management  melibatkan unsur-unsur pemerintah  (goverment based management)  baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah  yang bekerja sama dengan masyarakat lokal  (community based management)  dan investor  (private sector)  yang berwawasan lingkungan  (Rudyanto, 2004). Pemanfaatan wilayah pesisir dan laut harus dilakukan secara terpadu dengan  memperhatikan daya dukung lingkungan  (carrying capasity)  wilayah tersebut. Konsep  pengelolaan kawasan pesisir dan laut disajikan pada Gambar di bawah

    Berdasarkan pembahasan di atas, maka beberapa kebijakan dan strategi  harus  berdasarkan kepada : (1) pemahaman yang baik tentang proses-proses alamiah (eko-hidrologis)  yang berlangsung di kawasan pesisir yang sedang dikelola, (2) kondisi ekonomi, sosial, budaya  dan politik masyarakat,  dan (3) kebutuhan saat ini dan yang akan datang terhadap barang dan  (produk) dan jasa lingkungan pesisir  (Rahmawaty, 2004).  Berikut ini diuraikan upaya  pengelolaan pesisir dan laut Kepulauan Raja Ampat secara terpadu dan berkelanjutan.

1.  Pengembangan dan pemanfaatan hasil-hasil kelautan dan perikanan serta ekowisata 

Kabupaten Raja Ampat ini dibangun dan didukung oleh potensi sumber daya alam yang  lestari untuk menuju masyarakat yang madani dalam konteks Negara Kesatuan Republik  Indonesia. Dalam hal ini Bupati Raja Ampat mengusulkan pembangunan kawasan ini  beranjak dari hasil-hasil perikanan dan ekowisata Kawasan ini memilki kekayaan ikan  karang dan keindahan panorama yang hebat. Dalam pemanfaatan hasil laut yang sangat  melimpah program pemanfaatan dberpijak pada pengembangan budidaya perikanan,  pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir dan perlindungan terhadap potensi sumber  daya kelautan. Pembudidayaan akan difokuskan pada pelatihan masyarakat serta  membuat percontohan untuk budidaya rumput laut. Seperti yang kita ketahui bahwa  industry juga membutuhkan bahan mentah untuk kosmetika, obat-obatan dan agar-agar  tentunya meruakan potensi yang menjanjikan.

2.  Pembangunan berwawasan lingkungan yang melibatkan masyarakat 

Potensi yang ada di wilayah tersebut harus  dikelola secara professional, dan secara  terpadu agar terangkat ekonomi daerah dan juga membantu ekonomi negara yang  semuanya bermuara pada pemberdayaan masyarakat atau meningkatkan kesejahteraan  masyarakat. Setelah ditetapkan sebagai kawasan wisata, maka lokasi ini mengundang  perhatian masyarakat sehingga masyarakt tersebut berperan dalam pembangunan dan  pendapatan daerah  serta peningkatan ekonomi masyarakat itu sendiri. Potensi yang  sangat besar di darat maupun di laut diupayakan pemanfaatannya sedemikian rupa dan  diarahkan pada pembangunan yang berwawasan lingkungan, artinya sumber daya alam  itu dapat dieksploitasi, tetapi memperhatikan lingkungan hidup dan pelestarian alamnya.  Eksploitasi mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya, tetapi tidak lupa bahwa tetap  mendukung keseimbangannya dan pelestarian lingkungan.

3.  Konservasi Ekosistem Pesisir dan Laut

Kelestarian ekosistem  pesisir dan laut sangat penting demi keberlanjutan pengelolaan  sumberdaya. Meskipun secara umum ekosistem hutan dan terumbu karang di kepulauan  Raja Ampat masih  baik, namun tetap diperlukan upaya-upaya pengembangan program konservasi bagi ekosistem tersebut dengan melakukan sosialisasi dan edukasi akan pentingnya ekosistem tersebut.  Beberapa kawasan Kepulauan Raja Ampat telah  ditetapkan sebagai kawasan konservasi darat dengan luas total 489.462 ha. Dua  diantaranya berada di Pulau Waigeo yaitu Cagar Alam Waigeo Barat  (153.000 ha  berdasarkan SK  Menhut No.395/kpts/Um/1981) dan Cagar Alam Waigeo Timur  (119.500 ha berdasarkan SK Menhut No.251/kpts-II/1992), Cagar Alam Misool (84.000  ha berdasarkan SK Menhut No.716/kpts/Um/1982) Cagar Alam Batanta Barat (10.000 ha  berdasarkan SK Menhut No.912/kpts/Um/1981). Selain itu laut sekitar Waigeo Selatan  meliputi pulau-pulau kecil, seperti Gam, Mansuar, kelompok Yeben dan kelompok  Batang Pele telah ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa Laut (60.000 ha berdasarkan  pada SK Menhut No.81/kpts-II/1993)

4.  Peran serta aktif Pemerintah, Stake Holder dan masyarakat 

Dalam pembangunan Kepulauan Raja Ampat ini harus adanya keterkaitan dan kerja sama  antar stake holder agar tidak adanya kepentingan yang tumpang tindih dan yang paling  penting  setiap stake holder maupun organisasi mempunyai ketertarikan terhadap  lingkungan. Adapun strategi yang dipakai dalam proses pembangunan Raja Ampat ini,  yaitu sains, pengembangan masyarakat, kebijakan dan pengelolaan kolaboratif serta  penyadaran publik. Diharapkan dengan sains masyarakat akan lebih memahami betapa  pentingnya membangun wilayahnya dengan potensi yang ada, di lain pihak masyarakat  juga berkembang tingkat ekonominya karena pemanfaatan potensi tadi. Namun demikian  pemerintah daerah harus tetap mempunyai kebijakan untuk pembatasan manfaat dan  pengelolaan sumber daya alam yang merupakan potensi wilayah tersebut, yang harus  dilakukan dengan cara kerjasama dengan pihak luar yang mempunyai minat membantu  pembangunan Kepulauan Raja Ampat.

5.  Pengelolaan Sumber daya alam berbasis masyarakat

Di Kepulauan Raja Ampat ini terdapat pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan  secara tradisional oleh masyarakat seperti penentuan batas wilayah Ulayat, pengakuan  hak-hak (misalnya pembatasan nelayan dari luar untuk desa-desa tertentu seperti di Desa  Arborek dan Fam), pengontrolan ukuran komoditas laut yang bisa ditangkap (pembatasa  ukuran bagi Lobster di Desa Sawinggrai dan  lola di Desa Arborek) system momatorium  atau musim buka tutup  (sasi gereja) untuk teripang, lobster dan lola adanya jenis-jenis  tabu yang tidak boleh ditangkap di daerah tertentu dan lain-lain. Sistem pengelolaan tradisional ini dijadikan peluang dalam membangun strategi konservasi berbasis  masyarakat.  

6.  Sistem Informasi dan Komunikasi yang memadai

Kepulauan Raja Ampat ini memiliki keindahan bawah laut yang sangat menakjubkan dan  panorama yang indah  tetapi sayangnya masih banyak wisatawan domestic dan  mancanegara yang belum kenal dengan lokasi ini. Oleh sebab itu pembangunan bahari  juga harus didukung dengan system informasi dan komunikasi yang memadai

 

Download File PDF

 

Daftar Pustaka

Atiyah Oemie, 2007. Jurnal Raja Ampat. Di unduh tanggal 3 Oktober 2010

Ikawati, Juni, 2010. Nasib Terumbu Karang Di Tangan Anda. Jakarta : Coremap LIPI

Peristiwady, Teguh, 2006.  Ikan-ikan Laut Penting Di Indonesia: Penting diidentifikasi. Jakarta:

LIPI Press

Farid, Muhammad Anggraeni Dessy, 2005.  Pengelolaan Sumber Dya Alam dan Pilihan

Konservasi Berbasis Masyarakat Di Waigeo Selatan Kepulauan Raja Ampat.  Majalah

Tropika Volume 9 No 2. Jakarta : Conservation International Indonesia.

Dahuri,  R., J.  Rais, S.P. Ginting,  dan M.J. Sitepu. 1996.  Pengelolaan Sumberdaya Wilayah

Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. PT. Pradnya Paramita, Jakarta.

Rahmawaty. 2004.  Pengelolaan Kawasan Pesisir dan Kelautan secara Terpadu  dan

Berkelanjutan. e-USU Repisotory Universitas Sumatera Utara.

Rudyanto, A. 2004.  Kerangka Kerjasama dalam Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut.

Makalah disampaikan pada Sosialisasi Nasional Program MFCDP 22 September 2004.

http://artikellama.blogspot.com diunduh tanggal 18 Oktober 2010

http://regional.coremap.or.id diunduh tanggal 15 Oktober 2010  

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Pengunjung

    812.009